Monday, 28 April 2014 14:14

Hari Buruh Bagi Pekerja BUMN

Setiap tanggal 1 Mei diperingati Hari Buruh Internasional (May Day), gerakan turun ke jalan para buruh seolah menjadi agenda rutin tahunan pada tanggal 1 Mei. Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menjadikan tanggal 1 Mei sebagai hari libur nasional sejak tahun 2014 dan seterusnya.

Sebagian pihak memaknai hari buruh dengan sempit. Hari buruh dianggap sekedar hari turun ke jalan, hari buruh dianggap sebagai hari sweeping, melakukan penyisiran pada setiap pabrik untuk mengajak pekerjanya turun ke jalan menyuarakan pelbagai persoalqan buruh.

Bagaimana pekerja BUMN memaknai hari buruh?

1. Pekerja BUMN adalah buruh bangsa

Setiap orang yang bekerja dan mendapatkan upah adalah buruh, tidak terkecuali orang yang bekerja di BUMN juga bisa disebut buruh. Pekerja BUMN memaknai hari buruh dengan konsepsi pemikiran yang berbeda. Pekerja BUMN bukanlah objek dari suatu bisnis proses secara makro. Pekerja BUMN harus diterjemahkan sebagai stakeholders perusahaan dan pihak yang paling berkepentingan dalam perusahaan yang kepentingannya melebihi kepentingan Direksi BUMN.

Direksi BUMN hanya berkuasa selama 5 tahun, sementara pekerja BUMN memiliki masa kerja hingga batas usia 56 tahun. Pekerja BUMN harus ditempatkan pada posisi yang strategis dan menjadi unsur utama pencapaian tujuan perusahaan negara.

Pekerja BUMN tidak sekedar bekerja untuk memperoleh upah, namun lebih mulia dari itu yaitu untuk membantu dan mendukung negara dalam menunaikan amanah konstitusi yaitu menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi hajat hidup orang banyak.

2. Jarak antara Gaji Direksi BUMN dan Pekerja BUMN terlampau Jauh

Direksi BUMN harusnya menerjemahkan kehadiran Serikat Pekerja BUMN sebagai “mitra koalisi” mewujudkan tujuan perusahaan. Jarak antara gaji Direksi BUMN dan pekerja BUMN yang terlampau jauh merupakan bentuk ketidakadilan dan menjadi salah satu faktor terjadinya disharmonis antara pekerja BUMN dan Direksi BUMN, oleh karenanya Pemerintah seharusnya membuat aturan yang mengatur formulasi dan prosesntase gaji Direksi BUMN dan pekerja BUMN, sehingga keadilan dalam hubungan industrial dapat terwujud di BUMN.

Jika sistem penggajian yang ada saat ini dipertahankan, maka bangsa ini mengalami kemunduran dalam konsepsi hubungan industrial. Jarak yang terlampau jauh tersebut seperti terjadi pada era kolonial yang mempekerjakan anak bangsa dengan tidak manusiawi sementara mereka menikmati hasil kerja para buruh dengan berlebih bermodal kekuasaan dan kewenangan.

3. Menggalakkan Industri Nasional

Membangun perekonomian bangsa diawali dengan konsepsi berpikir tentang unsur-unsur yang mempengaruhinya. Salah satu unsur yang mempengaruhi perekonomian bangsa adalah industri nasional. Pemerintah harus mendorong pergolakan positif dalam industri nasional salah satunya dengan cara menyusun kebijakan-kebijakan yang pro terhadap peningkatan peran dunia industri nasional sehingga aktivitas industri dalam negeri dapat bergerak, daya beli masyarakat meningkat, kesejahteraan rakyat secara makro makin tinggi.

4. Hentikan Politisasi BUMN

Politisasi isu-isu bisnis BUMN merupakan bencana bagi kondusifitas iklim kerja dan stabilitas hubungan industrial di BUMN yang pasti akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan tersebut. Oleh karena itu, salah satu ultimatum yang harus diangkat bersama dalam peringatan hari buruh 1 Mei 2014 ini adalah STOP mempolitisasi BUMN menjelang Pemilihan Presiden tahun 2014, kembalikan BUMN pada jalurnya untuk menopang [erekonomian bangsa yang harus dijaga kondusifitas kerjanya.

Penggalakan industri nasional di segala bidang adalah salah satu cara dalam mengurangi kemiskinan, pengangguran dan ketidakadilan bahkan kriminalitas.

SELAMAT HARI BURUH.

Read 534 times